Colenak Murdi Putra, "Dessert" Legendaris Bandung Sejak Tahun 30an

News

Nama colenak mungkin tidak asing lagi bagi orang Sunda. Namun bagaimana asal usul nama colenak dan makanan ini muncul? Bapak Murdi merupakan pioner colenak sekaligus pendiri colenak Murdi Putra. Usaha colenak ini dimulainya sejak tahun 1930an dan setiap harinya berjualan di pinggir jalan, tepatnya di Jl Ahmad Yani (Cicadas) No. 733 Bandung.

Dulu makanan ini disebut "Peuyeum digulaan" (tape dicampur gula) karena bahan utamanya berupa tape atau peuyeum. Kemudian peuyeum ini dibakar menggunakan arang, setelah dilumuri kelapa parut serta cairan gula merah.

Saat berjualan pertama kali, asap dari pembakaran peuyeum menyebar sehingga aromanya mengundang perhatian orang. Hal inilah yang membuat orang penasaran untuk mencobanya. Sampai akhirnya ada konsumen yang menyarankan agar "peuyeum digulaan" ini perlu memiliki nama.

Konsumen pun akhirnya mengusulkan diberi nama colenak, karena cara makan peuyeum bakar ini yang dicocol pakai gula merah. Dari sinilah tercetus nama colenak, singkatan dari dicocol enak.

Rasa Colenak Murdi Putra Tidak Berubah Sejak Dahulu

Bagi orang yang sudah mencicipi colenak Murdi Putra pasti akan berkomentar “Rasanya tidak berubah dari dahulu!”. Rasa peuyeumnya yang asam-asam gurih, diberi sirup gula yang tercampur dengan parutan kelapa muda. Manisnya pas dan ditambah lagi gurihnya parutan kelapa muda. Semua rasa itu tercampur dengan sempurna saat Anda mencicipi colenak Murdi Putra ini.

Seiring perkembangan jaman dan masukan konsumen, Colenak Murdi Putra pun menambah varian. Awalnya hanya ada original, kini Anda bisa menikmati colenak dalam rasa nangka dan durian.

Agar menambah nikmati dalam menyantap colenak, Anda bisa ditemani segelas teh pahit hangat. Mengingat rasa colenak yang sudah manis, sehingga bisa “diimbangi” dengan teh pahit hangat.

Cara Pengolahan Colenak Murdi Putra

Penasaran dengan cara pembuatan colenak Murdi Putra yang legendaris ini? Food Traveller Bandung beruntung loh diperbolehkan mengintip dapur Colenak yang sudah berdiri sejak tahun 1930an ini.

Pak Mahmud, cucu dari pendiri Colenak Murdi Putra, menyebutkan cara pengolahannya cukup sederhana namun memakan waktu lama. Mengingat cara pengolahannya masih sama seperti dahulu atau 'jadul'. Mulai dari mengukus singkong menggunakan kayu bakar, membakar peuyeum menggunakan arang, hingga pembuatan gulanya pun masih jadul.

Bahan-bahan pembuatan colenak juga tetap berasal dari kebun dan penjual yang sama sejak colenak ini berdiri. Misalnya singkong dari Bojong Koneng, hingga gula merah dari Cilacap.

Bagi Anda yang ingin mencicipi makanan yang pernah disajikan pada acara Konferensi Asia Afrika (KAA) pada tahun 1955 ini, maka bisa datang langsung ke Toko Colenak Murdi Putra, Jl. Ahmad Yani ( Cicadas) No. 733 Bandung. Buka mulai dari pukul 9 pagi hingga 9 malam setiap harinya.